Press "Enter" to skip to content

Tawa-tawa 5

0

Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang.

Izin Emak Dulu Ikut Demo

Alkisah seorang anak yang meminta izin kepada Emak sebelum ikut Demo.

Anak: “Mak, berangkat dulu ya!”

(Bu, berangkat dulu ya)

Emak: “Kemana Ko?”

(Kemana Kamu)

Anak:” Ikut demo Mak!”

(Ikut demo Bu)

Emak:”Acara masak-masak, ikutlah Mamak ya?!”

(Acara masak-masak, Ibu ikut ya)

Anak:” Eeheh bukan lah Mak, itu loh, demo tolak ominibus lo!”

(Eeheh, bukanlah Bu, Itu demo tolak omninibus loh)

Emak: “Kenapa Ko tolak, seken rupanya?”

(Kenapa Kamu tolak, apakah barang bekas)

Anak: ( krik..krikk..krikk) ” Bukan loh Mak, itu punya Bapak-bapak di DPR itu lo!”

(Bukan Bu, yang dikerjakan Bapak-bapak anggota DPR itu)

Emak: ” Beuuhh, bodo kali Ko, ngapaen ditolak apalagi punya anggota DPR kan, seken pun udah cantik kurasa itu, minibus loh. Kalau buka kertas mahal juga kurasa.

(Beeuhh, bodoh sekali Kamu, kenapa ditolak apalagi punya anggota DPR, bekaspun mungkin kondisinya masih bagus, minibus lo. Kalau beli baru pasti mahal harganya)

Anak: (Gubrakkk)”Bukan minibus lo Mak, itu demo yang kayak di tipi-tipi itu, rame-ramean kita!”

(Bukan minibus loh Buk, itu demo yang seperti di tv-tv itu, ramai)

Emak:” Ah, bukan mobilnya?”

(Bukan mobil)

Anak: “Bukaaaaaan, Mamaaaaak!”

Tawa: Izin Emak sebelum demo
Ilustrasi

Emak:”Ah, gak usah lah ikut-ikutan, bantu Mamak jualan lah dapat duit Ko buat jajan. Nanti ikut-ikut kena tangkap kena lempar, duit Aku juga yang keluar buat ngurusi Ko punya badan.

(Ah, tidak usah ikut-ikutan, bantu Ibu jualan saja bisa dapat duit jajan buat Kamu. Nanti ikut-ikutan tertangkap, kena lempar, uang Aku juga yang keluar untuk urus Kamu)

Anak:”Kawan-kawanku banyak yang ikut juga lo Mak!”

(Kawan-kawanku banyak yang ikut Bu)

Emak:”Ah, jangan berangkat kubilang. Kubakar juga ban motormu nanti!”

(Ah, jangan berangkat. Nanti Ibu bakar ban motor Kamu)

Anak:”Janganlah Mamak, nanti duit Mamak juga yang habis buat ganti loh!’

(Jangan Bu, nanti uang Ibu juga yang habis untuk ganti baru)

Emak:”Betul juga kurasa, pokoknya tak usah pergi kesitu, paham Ko kan!” (Sambil cubit si anak dengan kasih sayang)

(Betul juga ya, pokonya jangan pergi. Paham Kamu kan)

Anak:” Iya lah, iya lah, sakit loh Mak cubit Mamak itu!”

Jangan pernah membatah perkataan orang tua, terutama Ibu kalau tidak bisa kuwalat nanti. Hehehe.

Wak Bidin dan Wak Pekak

Tawa:Wak Bidin dan Wak Pekak
Iliustrasi

Suatu hari dua sahabat Wak Bidin dan Wak Pekak sedang memancing bersama di sungai.

Wak Bidin: “Kenapa tak ngumpan pakai cacing Wak?”

(Kenapa tidak menggunakan umpan cacing Wak)

Wak Pekak: “Aku tak nak ngumpan pakai cacing lagi de!”

(Aku tidak mau lagi menggunakan umpan cacing)

Wak Bidin:”Ape sebab?”

(Kenapa)

Wak Pekak:” Tempo hari tu, aku bawa anakku ke pukesmes kan!”

(Kemarin aku bawa anakku ke puskesmas)

Wak Bidin:”Hah, ape dah jadi?”

(Hah, apa yang telah terjadi)

Wak Pekak:” Doktor tu cakap anakku keno cacingan!”

(Dokter bilang anakku terkena cacingan)

Wak Bidin:” Macam mane bisa cacingan?”

(Bagaimana bisa kena cacingan)

Wak Pekak:” Itulah, akupun tanye ngan doktor tu. Cakap die kene daghi makanan bisa jadi!”

(Itulah, Akupun bertanya pada dokter. Katanya kemungkinan dari makanan)

Wak Bidin:”Makanan macam mane pula tu?”

(Makanan seperti apa itu)

Wak Pekak:” Aku pun cakap macam tu ke doktor tu. Aku cakap tak pernah beghi anakku makan cacing de.”

( Aku juga bilang seperti itu pada dokternya. Aku bilang tidak pernah memberi makanan cacing)

Wak Bidin:”Lalu?”

Wak Pekak:” Sejak itu, lame aku piki-piki sampai tengah malam dapat lah sebab kenape anakku kene cacingan.”

(Sejak itu aku kepikiran hingga tengah malam sampai akhirnya menemukan penyebab anakku terkena cacingan)

Wak Bidin:” Ape die?”

(Apa itu)

Wak Pekak:” Sebab aku ngumpan ikan dengan cacing, make tu ikan yang kumakan cacingan, kenelah anakkupun tetular cacingan sebab makan ikan yang kupancing lah.”

(Karena aku menggunakan umpan cacing, maka dari itu ikan yang aku makan cacingan, akhirnya anakku makan ikan tertular cacingan juga)

Wak Bidin:”Heeeyeeyyyy, patuuutlaaa ngumpan kini tak pakai cacing, tapi pakai keju, sebab tu rupenyeee. Alamaaaakkkk…!” (Tepok Jidat)

(Heeeyeeeyyy, pantaslah tidak menggunakan umpan cacing, tapi pakai keju, karena itu rupanya. Alamak.)

Jangan ambil hati ya, ini cuma bercanda kok.

Rumput Tetangga Lebih Hijau

Tawa: Rumput tetangga lebih hijau
Ilustrasi

Alkisah dua sahabat sedang menggembala kambing di padang rumput yang luas. Masing-masing menggiring kambing ke halaman rumput yang berbeda. Sambil menunggu kambing makan, dua penggembala itu duduk santai dan bercerita.

Penggembala 1: ” Wak dah tau tetangga baru pindah dari kampung sebelah tu?”

(Wak, sudah tahu ada tetangga baru dari kampung sebelah)

Penggembala 2: ” Nape?”

(Kenapa)

Penggembala 1: “Alamak, jandeee rupenye!”

(Alamak, janda ternyata)

Penggembala 2: “Ape untung buat ko kalau jande, ko kan dah bebini!”

(Apa untungnya untuk Kamu kalau dia janda, bukankah Kamu sudah beristri)

Penggembala 1:” Comel, Wak!”

(Manis, Wak)

Penggembala 2: ” Nak kene hamuk ngan bini Ko!?”

(Mau dihajar oleh istrimu)

Penggembala 1: ” Macam mane lage Wak, rumput tetangga tu lebih hijau!”

(Mau bagaimana lagi Wak, rumput tetangga lebih hijau)

Penggembala 2: ” Alamaaak, cukup kambing Ko je yang makan rumput. Ko tak usah ikut-ikut. Nasib kambing yang hobi makan rumput tetangga, tau jadi ape, jadi kambing guliiingggg!!”

(Alamak, cukup kambing Kamu saja yang makan rumput. Kamu jangan ikut-ikutan. Nasib kabing yang suka makan rumpun tetangga mau tahu akan jadi apa, jadi kambing guling)

Penggembala 1: (Gubraakk)

Kalau tidak mau jadi kambing guling, jangan makan rumput tetangga ya.

Ah Sudahlah

Kisah dua sahabat Wak Pekak dan Wak Bidin yang menghabiskan waktu untuk bercanda sambil ngupi.

Wak Pekak: ” Heyyyyy Bidin, nape sampai kini tak bebini?”

(Hey Bidin, kenapa sampai sekarang Kamu tidak nikah-nikah)

Wak Bidin: “Aiihhh, ko tak tau aku ni dah kawin 4 kali!”

(Aiihh, Kamu tidak tahu aku ini sudah nikah 4 kali)

Wak Pekak: ” Alamak, cite la!”

(Alamak, ceritakan lah)

Wak Bidin:” Kawin petame ngan bunge kampung hulu, baghu sebulan kawin badan dah bengkak macam badak!”

(Nikah pertama dengan bunga kampung hulu, baru sebulan nikah badannya sudah gendut seperti badak)

Wak Pekak:” Ape sebab bisa macam tu?”

(Apa sebab bisa seperti itu)

Wak Bidin: ” Macam mane tak bengkak, hari-hari habiiis beghas satu kaghung, heeyyyeyy!”

(Bagaimana tidak gendut, setiap hari habis beras satu karung,heeyyeyy)

Wak Pekak: “Ckckckck, yang kedue macam mane pulak?”

(Ckckckck, yang kedua bagaimana pula)

Tawa: Ah Sudahlah
Ilustrasi

Wak Bidin: ” Yang kedue saye kawin dengan bunge kampung hilir, memang tak banyak makan tapi badan kughus bedengkang pulak, tak de bedaging sikitpun, hehey!”

(Yang kedua saya nikah dengan bunga kampung hilir, memang tidak banyak makan tapi badan terlalu kurus kering, tidak ada daging sedikitpun)

Wak Pekak: ” Aihhhh, kalau yang ketige?”

(Aiihh, kalau yang ketiga)

Wak Bidin:” Kalau yang ketige dapat cantik sikit bunge kampung belakang, tapi itu tadilah. Duit yang aku kasih asik nak beli bedak dieee jeee. Jadi hari-hari aku makan bedak diee jee tak makan nasi de.”

(Kalau yang ketiga dapat yang sedikit cantik bunga kampung belakang, tapi ya itulah. Uang yang aku berikan habis untuk beli bedak dia saja. Jadi, setiap hari aku makan bedak dia saja tidak ada nasi)

Wak Pekak:” Kasihaan!”(Geleng-geleng kepala)

Wak Bidin:”Naaaah, yang keempat ni dapat bunge daghi kampung depan ni. Aiihhh, cantik, sholehah, tak banyak makan, tak kughus juge. Pas lah, tak nak cari yang lain lagi!”

(Nah, yang keempat ini bunga dari kampung depan. Aih, cantik, sholehah, tak banyak makan, tak kurus juga. Sudah pas tidak mau cari yang lain lagi).

Wak Pekak: “Hah, ape dah jadi?”

(Hah, apa yang terjadi)

Wak Bidin:” Heyyyyeeeyyy, pas nak malam petame dah mati pulaaak!”

(Heyyyeeyyy, begitu mau malam pertama dia mati pula)

Wak Pekak:”Alamaaak, ade oghang hobi benasib bughuk macam ko Bidin, ckckck. Sabo ye!”

(Alamaaak, ada ya orang yang hobi bernasib buruk seperti kamu Bidin,ckckck. Sabar ya)

Hidup harus banyak bersyukur, agar nikmat itu bertambah. Sip.

Yang Penting Bawa SIM dan STNK

Wak Pekak dan Wak Bidin mau jalan-jalan dengan mobil baru.

Wak Pekak: ” Hah, kite cube mobil baru ni ye!”

(Hah, kita coba mobil barunya ya)

Wak Bidin : ” Siap lah, saye dah siapkan semue surat penting supaye tidak kene tilang!”

(Siaplah, saya sudah siapkan semua surat penting agar tidak kena tilang nanti)

Wak Pekak: ” Mari, mari masuklah kedalam mobil biar berangkat kite jalan-jalan!”

(Mari, mari masuklah kedalam mobil biar kita berangkat jalan-jalan)

Tawa: Yang Penting Bawa SIM dan STNK
Ilustrasi

Wak Bidin : “Hidupkanlah mobil tu, dah tak saba lagi nih nak jalan-jalan!”

(Hidupkanlah mobilnya, saya sudah tidak sabar mau jalan-jalan)

Wak Pekak: ” Macam mane nak hidupkan, kunci tak ade!”

(Bagaimana mau dihidupkan, saya tak bawa kunci)

Wak Bidin : ” Macam mane pulak tak ade kunci ni?”

(Bagaimana bisa tidak bawa kunci)

Wak Pekak: ” Hari ni kan operasi zebra, informasi yang ku dengo yang wajib di bawa selama berkendara SIM dan STNK je!”

(Hari ini kan operasi zebra, informasi yang saya dengar yang wajib dibawa selama berkendara SIM dan STNK saja)

Wak Bidin: “Jadi macam mane nak jalan mobil tu kalau tak dihidupkan pakai kunci?”

(Jadi, bagaimana caranya menjalankan mobil kalau tidak pakai kunci)

Wak Pekak: “Hehehe, dorong, dorong!”

Wak Bidin :(Tepok Jidat). ” Heh, dorong lah sendiri. Lalu Engko hidupkan mesin mobil tu pakai SIM same STNK ye!”

(Heh, dorong saja sendiri. Lalu Kamu hidupkan mesin mobil itu menggunakan SIM dan STNK ya)

Bawalah selalu SIM dan STNK ketika Anda berkendara agar tidak kena tilang di jalan raya, tapi yang pasti kunci kenderaan juga harus dibawa ya. Wkwkwk.

Demikian cerita tawa-tawa, semoga bisa membuat Anda tersenyum ya. Sampai jumpa pada artikel tawa lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »
error: